Skip to main content

Awal Perjalanan Menuju Impian (PART. II)



       Setelah akhirnya gue berhasil ngajak salah satu temen gue yang mukanya layak untuk di bilang kriminal :D sebut saja bunga atau nama samaranya Mochammad Chico, biasa dipanggil Chico. Akhirnya masalah baru-pun datang, yaitu:  “siapa 1 lagi yang bisa di ajak untuk gabung?”
         Berfikir keras untuk mencari orang yang pas buat di ajak gabung di tim, jelas kesempatan ini langka, ada lomba hadiahnya bisa jalan – jalan ke Puncak, nginep 2 hari 1 malam,  GRATIS LAGI! Siapa yang ga mau coba??
         Tiba – tiba dunia yang kelam perlahan – lahan bercahaya, bersamaan dengan munculnya ide dari temen gue
         “Ah, gue tau be siapa? “ ucap chico dengan muka berseri – seri
         “Tau apaan? Tau yang ganteng? Haduh cho lu baru sadar” Jawab gue dengan muka tengil sambil benerin Rambut.
         “Bukan dodol, tapi yang pas buat kelompok kita” jawab Chico
         “Siapa?”
         “Fariz bee… Dia kan jago Komputer tuh,.. “ jawab Chico dengan muka puas kayak abis selesai buang air.
         “Owalah iya juga ya? Wah kadang2 otak lu bukan hanya jadi pajangan aja ya haha” jawab gue
         “Aseem lu “
         Akhirnya kita putuskan untuk merekrut fariz, Fariz Hermawan. Seorang mahluk masih sejenis manusia ya, cuman untuk urusan IT udah deh itu udah lauk-pauknya dia, bahkan ibaratin kerupuknya dia. Anak ini diperkirakan waktu dikandungan udah main gadget dan suka update status. Bayangin kalau emang dari kandungan dia udah sering update status mungkin stastusnya bakal..
         “Aduh ini mama maem apa eeaa? Kok melempem gicu sih? Aiz haus cemunguth pokoknaaa dech! Dickit agi mau Kewuar #CemunguthAiz #H-6 Lahiran” telah diperbarui 5 menit yang lalu dari kandungan emak.

         Akhirnya gue sama Chico pun berjalan menuju kelas fariz, dan bertemulah dengan fariz. Akhirnya kita ngobrol – ngobrol panjang,lebar, tinggi sama dengan luas, singkat cerita Fariz-pun setuju walau awalnya sempat menolak, karena dalam perlombaan nanti ada masa dimata kita akan debat juga mengenai nuklir, dengan iming – iming untuk masalah debat itu urusan gue sama Chico, ya dia akhirnya setuju, padahal gue sama Chico engga ngerti sama sekali mengenai Nuklir.
         Mulailah kita ber 3 mencari ide untuk membuat alat apa untuk lomba ini? Dengan tema sesuatu yang dapat dibuat dengan barang sederhana dan berguna. Bagai bajaj yang ga punya arah mau kemana,kita mulai browsing masing – masing dan mencari ide.
Saat itu memang sepertinya darah Teknik udah ada dalam kita ber -3 yang menyebabkan kita hanya fokus di barang elektronik, bukan hal – hal yang berbau recycle sampah dan lainnya, yang sebagian besar bisa dikatakan lebih mudah dibuat dan dicari barangnya, sempat kepikiran mau bikin kompor elektrik pake USB buat angetin kopi, dan barang – barang aneh lainnya.
Pada akhirnya gue teringat tugas dari guru PLH gue (PLH itu mungkin bisa di bilang kayak pelajaran keterampilan tangan gitu) saat itu Chico pernah membuat barang elektronik yaitu kipas tapi pake kabel USB yang dipasang di Laptop, tapi kipasnya ini ngarahnya  ke kita, jadi bener-bener jadi kipas, alat ini kita sebut USB Fan.
Dengan berfikir praktis dan biar ga repot karena barangnya udah ada walaupun dipajang di sekolah :D fix lah akhirnya kita bakal bawa itu buat lomba ini. Bagai maling jemuran yang udah frustasi kagak pernah dapet boxer bagus, kita mengendap – ngendap mau ambil USB Fan yang di pajang di sekolah, yang mana barang itu di sejajarin bareng piala – piala. Belajar dari film – film tentang permalingan, gue paling ahli masalah beginian, gue belajar dari film favorite gue, Dora .
Mulailah kita bagi Tugas mulai ada yang jagain, ngambil, ngasih kode dll sialnya gue bagian yang ngambil, untungnya sepi akhirnya kita bisa membawa Dora, eh salah maksud gue bisa membawa USB Fan dengan aman. Akhirnya kita kerumah fariz buat bikin PPT tentang USB Fan dan karya tulis sejenis artikel gitu tentang Nuklir. Fariz bagian PPT, gue sama Chico bagian Artikel, tapi sesekali gue juga sama Chico  bantuin Fariz, bantuin Saran.
Saat itu perjuanganya benar –benar berat, menghabiskan waktu dan tenaga, gue pun jadi tiap hari balik malem sampai diatas jam 10 – an, tapi itu bukan masalah karena gue yakin dibalik kesusahan pasti ada kebahagiaan. Orang tua mulai ngomel – ngomel, tapi gue coba tenangin supaya mereka bisa mengerti, disini gue berjuang demi kebahagiaan mereka pula.
Saat itu Orang tua belum bisa memahami, ya gue pun juga sadar emang salah jika begini, tapi hal inilah yang membuat gue terpancing untuk melakukan yang terbaik untuk segalanya, untuk membuktikan, waktu yang dihabiskan takkan sia – sia.
Tiga Hari telah berlalu. Usaha, Waktu, dan Tenaga sudah dihabiskan, dan ya Alhamdulillah semua sudah siap. Saat itu saat jam pelajaran akhirnya kita dipanggil bu Kiki untuk mengirim karya kita, tepatnya saat itu kita mengirim di ruang TIK, sumber Download gratisan :D
Akhirnya kita kirim karya kita, dengan sepenuh hati dan dengan penuh harapan. Kita tidak terlalu berharap banyak, kita sadar kapasitas dan kemampuan kita, tapi kita punya keinginan yang sama, belajar dan dapat pengalaman dari orang lain.
1 Minggu telah berlalu, ya tepatnya 1 Oktober 2012, waktu pengumumanya. Saat itu pengumuman yang kita tau hanya melalui By Phone. Saat itu kita menantikan Pembina Kita di telpon BATAN, dan pada akhirnya ternyata tidak. Sedih dan kecewa  jadi satu, dan sempat terfikir alangkah bodohnya kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang sia – sia.
Dua Hari Kelabu-pun telah berlalu, kita sudah ikhlas atas segala yang terjadi. Mungkin semua ini hanya mimpi, yang indah tapi tak nyata, mungkin semua ini hanya seperti bintang, yang indah tapi tak dapat dimiliki.
         Tapi suatu keajaiban menghampiri, disaat kita sudah merasa terjatuh dan terhempas dalam kekecewaan. Terdengar kabar gembira yang tidak terduga. Allah memberikan jalan dan kesempatan kepada kami untuk terus berjuang, Alhamdulillah ternyata kami lolos :’)
         Saat itu gue masih menganggap semua ini cuma mimpi, ternyata engga. Trus gue pun bertanya kenapa baru dikasih tau sekarang? Ternyata memang pengumumanya itu melalui Web, bukan melalui telepon, kalau telepon itu hanya untuk yang belum konfirmasi untuk siap berlajut, ya seperti kasus gue sekarang. Dimana sekolah lain udah konfirmasi sehabis pengumuman, lah gue ternyata malah belom tau kalau lolos sampai2 di telepon buat konfirmasi.
         Akhirnya semenjak itu gue- pun tersadar kalau memang segala hal tak ada yang sia – sia, dan Allah pasti akan melihat segala usaha kita. Haru, senang menjadi satu.
tapi semua itu berubah saat kita baru menyadari kalau . . .

To be Continued

Comments