Setelah akhirnya gue berhasil
ngajak salah satu temen gue yang mukanya layak untuk di bilang kriminal :D
sebut saja bunga atau nama samaranya Mochammad Chico, biasa dipanggil Chico.
Akhirnya masalah baru-pun datang, yaitu:
“siapa 1 lagi yang bisa di ajak untuk gabung?”
Berfikir
keras untuk mencari orang yang pas buat di ajak gabung di tim, jelas kesempatan
ini langka, ada lomba hadiahnya bisa jalan – jalan ke Puncak, nginep 2 hari 1
malam, GRATIS LAGI! Siapa yang ga mau
coba??
Tiba
– tiba dunia yang kelam perlahan – lahan bercahaya, bersamaan dengan munculnya
ide dari temen gue
“Ah,
gue tau be siapa? “ ucap chico dengan muka berseri – seri
“Tau
apaan? Tau yang ganteng? Haduh cho lu baru sadar” Jawab gue dengan muka tengil
sambil benerin Rambut.
“Bukan
dodol, tapi yang pas buat kelompok kita” jawab Chico
“Siapa?”
“Fariz
bee… Dia kan jago Komputer tuh,.. “ jawab Chico dengan muka puas kayak abis
selesai buang air.
“Owalah
iya juga ya? Wah kadang2 otak lu bukan hanya jadi pajangan aja ya haha” jawab
gue
“Aseem
lu “
Akhirnya
kita putuskan untuk merekrut fariz, Fariz Hermawan. Seorang mahluk masih
sejenis manusia ya, cuman untuk urusan IT udah deh itu udah lauk-pauknya dia,
bahkan ibaratin kerupuknya dia. Anak ini diperkirakan waktu dikandungan udah
main gadget dan suka update status. Bayangin kalau emang dari kandungan dia
udah sering update status mungkin stastusnya bakal..
“Aduh
ini mama maem apa eeaa? Kok melempem gicu sih? Aiz haus cemunguth pokoknaaa dech!
Dickit agi mau Kewuar #CemunguthAiz #H-6 Lahiran” telah diperbarui 5 menit yang
lalu dari kandungan emak.
Akhirnya
gue sama Chico pun berjalan menuju kelas fariz, dan bertemulah dengan fariz.
Akhirnya kita ngobrol – ngobrol panjang,lebar, tinggi sama dengan luas, singkat
cerita Fariz-pun setuju walau awalnya sempat menolak, karena dalam perlombaan
nanti ada masa dimata kita akan debat juga mengenai nuklir, dengan iming –
iming untuk masalah debat itu urusan gue sama Chico, ya dia akhirnya setuju, padahal
gue sama Chico engga ngerti sama sekali mengenai Nuklir.
Mulailah
kita ber 3 mencari ide untuk membuat alat apa untuk lomba ini? Dengan tema
sesuatu yang dapat dibuat dengan barang sederhana dan berguna. Bagai bajaj yang
ga punya arah mau kemana,kita mulai browsing masing – masing dan mencari ide.
Saat itu
memang sepertinya darah Teknik udah ada dalam kita ber -3 yang menyebabkan kita
hanya fokus di barang elektronik, bukan hal – hal yang berbau recycle sampah
dan lainnya, yang sebagian besar bisa dikatakan lebih mudah dibuat dan dicari
barangnya, sempat kepikiran mau bikin kompor elektrik pake USB buat angetin
kopi, dan barang – barang aneh lainnya.
Pada
akhirnya gue teringat tugas dari guru PLH gue (PLH itu mungkin bisa di bilang
kayak pelajaran keterampilan tangan gitu) saat itu Chico pernah membuat barang
elektronik yaitu kipas tapi pake kabel USB yang dipasang di Laptop, tapi
kipasnya ini ngarahnya ke kita, jadi
bener-bener jadi kipas, alat ini kita sebut USB Fan.
Dengan
berfikir praktis dan biar ga repot karena barangnya udah ada walaupun dipajang
di sekolah :D fix lah akhirnya kita bakal bawa itu buat lomba ini. Bagai maling
jemuran yang udah frustasi kagak pernah dapet boxer bagus, kita mengendap –
ngendap mau ambil USB Fan yang di pajang di sekolah, yang mana barang itu di
sejajarin bareng piala – piala. Belajar dari film – film tentang permalingan,
gue paling ahli masalah beginian, gue belajar dari film favorite gue, Dora .
Mulailah
kita bagi Tugas mulai ada yang jagain, ngambil, ngasih kode dll sialnya gue
bagian yang ngambil, untungnya sepi akhirnya kita bisa membawa Dora, eh salah
maksud gue bisa membawa USB Fan dengan aman. Akhirnya kita kerumah fariz buat
bikin PPT tentang USB Fan dan karya tulis sejenis artikel gitu tentang Nuklir.
Fariz bagian PPT, gue sama Chico bagian Artikel, tapi sesekali gue juga sama
Chico bantuin Fariz, bantuin Saran.
Saat itu
perjuanganya benar –benar berat, menghabiskan waktu dan tenaga, gue pun jadi
tiap hari balik malem sampai diatas jam 10 – an, tapi itu bukan masalah karena
gue yakin dibalik kesusahan pasti ada
kebahagiaan. Orang tua mulai ngomel – ngomel, tapi gue coba tenangin supaya
mereka bisa mengerti, disini gue berjuang
demi kebahagiaan mereka pula.
Saat itu
Orang tua belum bisa memahami, ya gue pun juga sadar emang salah jika begini,
tapi hal inilah yang membuat gue terpancing untuk melakukan yang terbaik untuk segalanya, untuk membuktikan, waktu yang
dihabiskan takkan sia – sia.
Tiga Hari
telah berlalu. Usaha, Waktu, dan Tenaga sudah dihabiskan, dan ya Alhamdulillah
semua sudah siap. Saat itu saat jam pelajaran akhirnya kita dipanggil bu Kiki
untuk mengirim karya kita, tepatnya saat itu kita mengirim di ruang TIK, sumber
Download gratisan :D
Akhirnya
kita kirim karya kita, dengan sepenuh hati dan dengan penuh harapan. Kita tidak
terlalu berharap banyak, kita sadar kapasitas dan kemampuan kita, tapi kita
punya keinginan yang sama, belajar dan
dapat pengalaman dari orang lain.
1 Minggu
telah berlalu, ya tepatnya 1 Oktober 2012, waktu pengumumanya. Saat itu
pengumuman yang kita tau hanya melalui By Phone. Saat itu kita menantikan
Pembina Kita di telpon BATAN, dan pada akhirnya ternyata tidak. Sedih dan
kecewa jadi satu, dan sempat terfikir
alangkah bodohnya kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang sia – sia.
Dua Hari
Kelabu-pun telah berlalu, kita sudah ikhlas atas segala yang terjadi. Mungkin
semua ini hanya mimpi, yang indah tapi tak nyata, mungkin semua ini hanya seperti
bintang, yang indah tapi tak dapat dimiliki.
Tapi suatu keajaiban menghampiri,
disaat kita sudah merasa terjatuh dan terhempas dalam kekecewaan. Terdengar
kabar gembira yang tidak terduga. Allah memberikan jalan dan kesempatan kepada
kami untuk terus berjuang, Alhamdulillah ternyata kami lolos :’)
Saat
itu gue masih menganggap semua ini cuma mimpi, ternyata engga. Trus gue pun
bertanya kenapa baru dikasih tau sekarang? Ternyata memang pengumumanya itu
melalui Web, bukan melalui telepon, kalau telepon itu hanya untuk yang belum
konfirmasi untuk siap berlajut, ya seperti kasus gue sekarang. Dimana sekolah
lain udah konfirmasi sehabis pengumuman, lah gue ternyata malah belom tau kalau
lolos sampai2 di telepon buat konfirmasi.
Akhirnya
semenjak itu gue- pun tersadar kalau memang segala
hal tak ada yang sia – sia, dan Allah pasti akan melihat segala usaha kita.
Haru, senang menjadi satu.
tapi semua itu berubah saat kita baru
menyadari kalau . . .
To be Continued

Comments
Post a Comment